Sample Text

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Mei 2012

World Bank Nilai Program di Aceh Terbaik Dunia

Diposkan oleh Haba Salang | Kamis, 02 September 2010 | |
154logobaruBanda Aceh – Pihak Bank Dunia menilai program yang dijalankan di Aceh yang dibiayai World Bank adalah yang terbaik di dunia. “Dari semua program yang telah saya lihat di seluruh dunia, di Aceh adalah yang terbaik. Ada beberapa hal yang benar-benar berhasil dilakukan di Aceh. Salah satunya adalah tingkat komitmen dari pemerintah daerah di Aceh yang jauh lebih tinggi dari pemerintah-pemerintah daerah dari provinsi lain,” kata Koordinator Pembangunan Bidang Sosial World Bank untuk Indonesia, Jan Weetjens.
Hal itu diungkap Jan Weetjens saat menghadiri pembukaan pelatihan pratugas fasilitator teknik kecamatan program PNPM Mandiri di Sultan Hotel, Kamis (27/8), Menurut dia, sangat mengagumkan melihat bagaimana orang-orang di Aceh bekerja menjalankan semua program yang disusun World Bank. “Program-program World Bank diterapkan secara aktual di lapangan, uang yang dialokasikan benar-benar beredar di masyarakat. Aceh memimpin untuk program peningkatan kapasitas, baik di tingkat warga ataupun staf World Bank,” kata dia.
Weetjens menyatakan akan menyampaikan laporan yang sangat baik sekembalinya ke World Bank di Jakarta dan di Washington atas hasil yang dilihat langsung di Aceh. “Saya juga melihat dampaknya di lapangan untuk masyarakat. Melihat pembangunan dan pemanfaatan irigasi, sekolah-sekolah, jalan-jalan, semuanya sangat menggembirakan,” kata Weetjens yang menghabiskan waktu tiga hari untuk memonitor dan mengevaluasi program-program World Bank di Aceh.
Ia mengatakan World Bank masih memiliki banyak sekali pekerjaan yang harus dilakukan di Aceh. “Kami akan melanjutkan untuk membantu masyarakat Aceh dengan fokus membangun infrastruktur, dan pemberdayaan ekonomi. Tidak hanya melalui program yang kami susun, World Bank juga akan mendukung program-program yang dibuat pemerintah Aceh,” janjinya.
Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Aceh, Alibasyah mengatakan untuk Aceh saat ini World Bank memberikan dukungan mencapai Rp 5,8 miliar tiap bulan untuk membayar gaji konsultan pendamping program Bantuan Keuangan Pemakmu Gampong (BKPG) yang digagas Pemerintah Aceh.
“Sekarang World bank mendanai pengeluaran Pemerintah Aceh hampir Rp 5,8 miliar setiap bulan untuk membayar gaji 2.165 orang konsultan di kecamatan dan di pedesaan,” kata dia. Di samping itu, lanjut Alibasyah, World Bank juga memberikan bantuan dana untuk pelaksanaan pelatihan, perencanaan parsipatif di setiap desa di Aceh. “Mereka memberikan bantuan langsung di tiap kecamatan antara Rp 400-800 juta per kecamatan, membiayai konsultan pendamping program BKPG. Mendukung program Gubernur Aceh yaitu BKPG di setiap desa Rp 100 juta ditambah dari setiap kabupaten Rp 50 juta. Tanpa ada dukungan dari World Bank maka program PNPM atau BKPG yang dilakukan di Aceh tidak akan pernah sukses,” papar dia. Dikatakan Ali, untuk PNPM Mandiri Perdesaan World Bank memberikan dukungan dana untuk 244 kecamatan di 6.000 desa. “Pekerjaan ini tidak mudah, mengingat terlalu banyak desa yang perlu dijangkau di hampir 276 kecamatan, ada 6.411 desa di seluruh Aceh,” kata dia.(serambinews)

Lantai Jembatan Patah, Sepmor Jatuh ke Parit

LHOKSUKON - Seorang warga Desa Nga, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara,  Mukhlis (30), jatuh ke parit bersama sepeda motor Supra Fit yang ditumpanginya, saat melintas di jembatan yang terbuat dari pohon kelapa di Desa Blang Gunci, kecamatan setempat, Jumat (25/5) sore. Mukhlis mengalami luka ringan pada bagian tangan, dan kaki, sedangkan sepmornya rusak pada bagian mesin.
Informasi diperoleh Serambi, jembatan itu merupakan jalur utama yang menghubungkan sejumlah desa (Nga, Kebun Pirak, dan Alue Lhok) di  Kecamatan Pirak Timu dengan Desa Keude Paya Bakong. Selama ini, setiap harinya jembatan itu dilalui oleh ratusan sepeda motor milik masyarakat kedua kecamatan itu.
“Lantai jembatan terbuat dari pohon kelapa yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Mukhlis saat itu datang dari Desa Nga menuju Desa Keude Paya Bakong. Sesampainya di jembatan itu lantai jembatan patah, dia tak bisa menahan kesimbangan lalu terjatuh ke parit irigasi persis di bawah jembatan itu,” sebut saksi mata kejadian itu, Muhammad Kamal (28) warga Desa Blang Gunci, kepada Serambi, Sabtu (26/5).
Ditambahkan, pihaknya berharap Pemkab Aceh Utara membangun jembatan permanen di desa tersebut, sehingga kasus serupa tidak terjadi di kemudian hari. “Jembatan ini lebarnya hanya empat meter dan panjangnya enam meter. Kami harap ini dibangun secara permanen.Sehingga kejadian serupa tidak terulang lagi,” pungkas Muhammad Kamal.(c46)

Editor : bakri                                                                    Sumber : Serambi Indonesia

Jembatan-Fery1     images10

Selasa, 22 Mei 2012

Empat Bocah Jatuh ke Sungai

* Dari Jembatan tanpa Besi Pengaman


LHOKSUKON - Empat bocah Desa Rayeuk Pange, Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara bersama sepeda motor (sepmor) yang mereka boncengi, Senin (21/5) sekitar pukul 15.10 WIB jatuh dari jembatan gantung di desa tersebut ke Krueng (sungai-red) Keureutoe. Insiden itu terjadi saat salah seorang dari mereka yang menjadi pengendara tak sanggup mengendalikan laju sepmornya saat berada di atas jembatan yang tanpa besi pengaman tersebut. Keempat bocah itu adalah Fahrul (12), Ziaulhaq (11), Khairul (11) dan Mahlil (11).
Untuk diketahui jembatan itu setiap harinya dilintasi warga dari Desa Rayeuk Pange, Alue Bungkoh, Matang Keh, Teupin U, Ceumeucet, Leupe, Meunasah Bungong, Geulumpang, dan Ara Ton-Ton, Kecamatan Pirak Timu menuju Kecamatan Matangkuli dan Lhoksukon, Aceh Utara. Setiap hari ratusan kendaraan, terutama sepeda motor melintas  jembatan itu. Jalur tersebut adalah jalan pintas menuju Kecamatan Matangkuli dan Lhoksukon.
Keuchik Rayeuk Pange, Abdul Wahab Hamzah, kemarin, menjelaskan,  keempat bocah yang berboncengan sepeda motor Suzuki Jet Cooled tanpa nomor polisi datang dari arah Matangkuli menuju Desa Rayeuk Pange. Setibanya di jembatan itu, Fahrul selaku pengendara tidak sanggup mengendalikan laju kendaraannya. Sehingga mereka langsung terjun bebas ke sungai bersama dengan sepmornya.
“Beruntung, saat kejadian ada warga yang melintas dan langsung menolong mereka. Fahrul sempat pingsan sepuluh menit. Sedangkan tiga temannya luka lecet di kaki dan tangan. Keempat remaja itu sempat dirawat di Puskesmas Matangkuli, tapi kini sudah kembali ke rumah masing-masing,” jelas Keuchik. Karena itu, ia berharap Pemkab Aceh segera merehab jembatan tersebut. Sehingga kejadian serupa tak terulang lagi di masa mendatang.(c46)

Editor : bakri

     

Senin, 21 Mei 2012

Bensin di Pirak Timu Rp 6.000 Seliter

LHOKSUKON - Harga bensin di Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara kini dijual mencapai Rp 6.000 per liter. Padahal, pemerintah batal menaikkan harga harga bahan bakar minyak (BBM). Karena itu, warga setempat meminta pemerintah menertibkan harga jual bensin di tingkat pedagang pengecer.
“Padahal, sudah jelas tidak jadi kenaikan BBM. Namun, di kampung masih saja ada masyarakat yang menjual bensin Rp 6.000. Ini tentu sangat memberatkan masyarakat,” ujar Rusli (40) warga Meunasah Matang Keh, Pirak Timu, kepada Serambi, kemarin.
Hal senada juga disampaikan Safrizal (24) warga Desa Blang Gunci, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara. “Sudah dua minggu lebih harga bensin Rp 6.000. Kita harap, masalah ini bisa ditertibkan oleh pemerintah. Sehingga, kita bisa membeli dengan harga normal,” kata Safrizal sembari berharap stok bensin tidak langka lagi.(c46) indexa

Pilkada Aceh Memanas, Mobil Tim Kampanye Dibakar

 Sepenggal Berita Pilkada

Ilustrasi Gambar
KASUS pembakaran mobil tim kampanye pasangan calon gubernur Irwandi Yusuf/Muhyan Yunan, kembali terjadi. Mobil Avanza dengan nomor polisi BL 918 Z yang dikendarai M Saidi dibakar di Desa Reungkam, Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara, Sabtu (17/3) pukul 03.00. Namun, mobil tersebut berhasil diselamatkan.
M Saidi (23) mengungkapkan, malam kejadian, ia bersama temannya Hendra Supriadi (24) pulang dari Krueng Mane, Aceh Utara menuju rumahnya di Desa Reungkam, Pirak Timu. Sesampainya di rumah, M Saidi dan Hendra memarkirkan mobil di pinggir jalan, delapan meter dari rumah. Keduanya tertidur, dan sekitar pukul 03.00 WIB, terbangun karena mendengar suara sepeda motor di depan rumah.
M Saidi dan Hendra terkejut ketika melihat bumper bagian depan mobil dan pintu kanan mobil sudah terbakar. Mereka langsung memadamkan api sehingga tidak seluruh bagian mobil hangus. Diketahui seluruh bagian mobil juga sudah disiram bensin.
M Saidi langsung menghubungi aparat Polres Aceh Utara dan Polsek Pirak Timu. Sekitar pukul 03.30 WIB, polisi tiba di lokasi kejadian dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Saidi mengaku, malam itu mereka memang tidak ingin tidur karena sudah ada firasat tak enak. "Karena kelelahan, kami tertidur. Kami harap, kasus ini bisa diungkap tuntas oleh polisi," ujar M Saidi didampingi Hendra.
Pelaku diduga menggunakan sepeda motor Suzuki Spin. Namun, tidak diketahui nomor pelat polisi.
Kepala Polres Aceh Utara, AKBP Farid Bachtiar Efendi, mengatakan hasil olah tempat kejadian perkara dan pemeriksaan saksi korban, pelaku diperkirakan berjumlah dua orang. Datang dari arah Desa Beurandang, Kecamatan Pirak Timu, menuju Desa Reungkam.
"Kita temukan juga satu jerigen berisi bensin dan sepasang sandal di lokasi kejadian. Kasus ini terus kita kembangkan dan buru pelakunya. Kita harap, bisa segera terungkap. Untuk motif belum kita ketahui, jika pelakunya tertangkap, motifnya baru jelas," katanya.
Saidi memperkirakan, aksi tersebut berkaitan dengan posisi mereka sebagai tim kampanye pasangan calon gubernur Irwandi Yusuf/Muhyan Yunan.
"Sebelumnya, ada yang meminta saya mundur dari tim kampanye," ujarnya. n Ayi Jufridar

Jalan dikawasan Exxonmobil tak terawat

LHOKSEUMAWE – Awal kegiatan eksplorasi gas yang dilakukan oleh Mobil Oil dan kini dilakukan oleh ExxonMobil, semua lintasan jalan yang digunakan perusahaan Migas tersebut dijaga dan dirawat dengan baik.
Jangankan berlubang, bergelombang sedikit saja langsung diperbaiki. Namun saat akan berakhir kegiatan eksplorasi gas, semua lintasan jalan milik perusahaan raksasa tersebut dibiarkan tanpa perawatan.
Kini jalan line pipa (begitu sering disebut) mulai dari Cluster 1 hingga Cluster 4 dipenuhi lubang besar. Masyarakat Kecamatan Nibong, Tanah Luas, Matang Kuli dan Pirak Timu, kerap terperangkap dalam lubang-lubang besar dan hamper saban hari ada yang terjatuh di jalan itu.
Selain warga empat kecamatan tersebut, jalan Line Pipa juga dijadikan sebagian masyarakat Aceh Utara sebagai rute untuk melepas lelah dan kepenatan. Mulai dari orang dewasa hingga anak muda setiap sore mangkal disana, guna menikmati rujak manis yang dijual masyarakat Nibong di dekat Poin E Exxonmobil.
Bukan hanya itu, para pedagang durian yang berasal dari berbagai daerah datang kesana untuk menjaja jualannya di pinggir jalan itu, begitu juga dengan pedagang jagung rebus, somai dan pedagang jajanan ringan lainnya. Aktivitas jalan tersebut sangat padat.
“Orang-orang suka jalan-jalan di Line Pipa karena jalan tersebut relatif aman karena tidak dilintasi mobil-mobil besar. Selain itu, pemandangan alam disana cukup menarik. Kami khawatir, jika jalan itu rusak dan tidak diperbaiki, berbagai aktivitas perdagangan akan lumpuh karena Line Pipa sepi,” kata T Hasansyah, tokoh muda dari Kecamatan Matang Kuli.
Tidak hanya sampai di Cluster 4, kerusakan jalan juga dialami di lintasan Cluster A, Kecamatan Pirak Timu. Kondisi disana lebih parah dari Cluster 1-4. Jika turun hujan, badan jalan tersebut persis kubangan kerbau. Kondisi ini sangat aneh, karena jalan Line Pipa merupakan jalan milik Exxonmobilm salah satu perusahaan Migas terbesar di dunia.
Sudirman (34), salah seorang warga Pantonlabu mengaku terheran-heran dengan kondisi jalan itu. Sebelum datang kesitu, dia mengaku mendengar dari mulut ke mulut kondisi jalan dan pemandangan disana sangat indah. “Kalau tidak melihat sendiri, saya pasti tidak percaya, kalau jalan Line Pipa separah itu. Masalahnya, jalan itu milik Exxonmobil,” kata Sudirman yang diamini Ramli, Idris, Hanafi, dan Dahlan.
Sebagai tokoh pemuda di Matangkuli, T Hansyah mengatakan, kehadiran Exxonmobil tidak banyak menguntungkan warga sekitar. Bantuan yang diberikan selama ini belum berhasil guna karena dinilai kurang tepat sasaran. Untuk pendidikan, hanya tiga sekolah yang menjadi binaan mereka yaitu SMAN-I Syamtalira Aron, Nibong dan Matangkuli.
Perekrutan tenaga kerja juga tidak seimbang dengan jumlah pemuda pengangguran, untuk Matangkuli saja mencapai 1.500 orang. Belum lagi di Pirak Timu, Nibong dan Tanah Luas. Memang, para pemuda itu tidak memiliki keahlian dalam urusan eksploitasi, tapi mereka ada yang mampu menjadi sopir, petugas keamanan dan bahkan menjadi tukang kebun di kantor itu.
Harapan itu mungkin telah pupus, sehingga akan berakhirnya kegiatan eksploitasi gas pada 2014. Masyarakat empat kecamatan itu kini hanya punya mimpi agar Exxonmobil dapat memperbaiki kembali lintasan jalan yang telah rusak. Paling tidak saat Exxonmobil akan pergi meninggalkan Aceh Utara, telah menghadiahkan bingkisan cantik untuk warga lingkungan.
“Mudah-mudahan, mimpi ini segera menjadi kenyataan. Kelau memang keberatan, sebaiknya Exxonmobil tidak usah menunggu 2014, silahkan angkat kaki dari tempat kami sekarang juga. Menteri ESDM dapat mencari industri lain untuk mengelola Arun LNG. Kami merasa, daerah kami selama ini dijadikan sebagai sapi perahan,” kata T Hasansyah penuh harap.
Armia Ramli, Humas Exxonmobil mengaku Exxonmobil telah memberikan hak warga lingkungan sesuai aturan yang telah ditetapkan Pemerintah Republik Indonesia.
Meskipun begitu, T Hasansyah dan Muhammad Husein, pemerhati sosial dan aktifis itu mengaku tidak percaya, karena semua bantuan yang telah diberikan Exxonmobil tidak tampak dan belum berhasil guna. Aktifis dan tokoh pemuda dari Matangkuli itu mengatakan, kondisi empat kecamatan tadi tak ubahnya seperti kata pepatah habis manis sepah dibuang.



Ada Banyak Jembatan Pencabut Nyawa Lho di Indonesia!

13297471881179541120
antaranews.com
Rasanya berita ambruknya jembatan kukar dengan konstruksi kokoh dan dibuat menggunakan teknologi tinggi beberapa waktu lalu, masih begitu segar dalam ingatan. Jembatan yang baru dibangun 10 tahun itu ambruk memakan korban jiwa. Padahal ini adalah jembatan dengan konstruksi canggih, lalu bagaimana dengan jembatan-jembatan gantung yang ada di desa dan tersebar di banyak wilayah di Indonesia? Keadaannya tidak lebih baik.
Teranyar, kasus ambruknya jembatan gantung  yang menjadi sarana penghubung jalan vital kembali terjadi. Kali ini terjadi pada jembatan Cikuda yang menghubungkan kampung Pabuaran kaum Cibanteng, kecamatan Ciampea, dengan dengan kampung Babakan, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. Sekitar 25 orang hanyut terbawa arus sungai Cihideung, 1 ditemukan tewas, 7 bocah dikabarkan hilang terbawa arus. Penyebrang kebanyakan terdiri dari ibu-ibu dan anak kecil. Penyelamatan sempat tertunda karena medan yang terjal. Arus sungai yang pasang dan air dasar sungai yang keruh dan berlumpur. Selain itu medan dalam sungai terdapat palung-palung dan bebatuan yang menyulitkan pencarian dan bisa membahayakan petugas tim SAR.
Ambruknya  jembatan yang dibangun sekitar tahun 2004, diduga karena sebagian kayu dan material bambunya sudah lapuk dan tak layak pakai. Tak kurang dari setahun yang lalu, jembatan gantung tersebut direnovasi untuk perbaikan darurat. Jembatan ini dibuat oleh swadaya masyarakat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat (Jabar) mengimbau masyarakat untuk aktif mengecek kondisi jembatan gantung yang ada di wilayah masing-masing untuk menghindari terjadinya ambruk.
Seperti yang dilaporkan tribunnews.com, di wilayah Aceh saja ada dua jembatan gantung ambruk yakni jembatan Batte Meutudong. Sebuah jembatan berukuran panjang sekitar 10 meter berkontruksi kayu yang terletak di Desa Kuta Tuha, Kecamatan Panga, Aceh Jaya. Jembatan ini mengalami kemiringan akibat telah lapuk. Kondisi tersebut menyebabkan kendaraan roda empat tidak dapat lagi melintas untuk mengangkut hasil tani seperti sawit, karet dan kepentingan lainnya.
Satu lagi jembatan gantung di Desa Asan Krueng Kreh, Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara. Akibatnya, akses sejumlah desa di Pirak Timu ke Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara terputus. Karena selama ini banyak warga yang memanfaatkan jembatan tersebut jika ingin ke Lhoksukon.
13297456441133481726Dilansir masih banyak jembatan yang membutuhkan penanganan serius. Dua terdapat di Provinsi Riau, yaitu Jembatan Rumbai Jaya dan Siak III yang bernama resmi Jembatan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah. Sedangkan lima lainnya adalah Jembatan Barito di Banjarmasin, Jembatan Mahakam Kota 1 di Samarinda, Jembatan Talumolo di Gorontalo, Jembatan Batanghari di Jambi, dan Jembatan Musi 2 di Palembang.
.
aceh.tribunnews.com
.
Pertengahan Januari lalu juga terjadi ambuknya jembatan gantung Rawayan di wilayah Garut, hingga mengisolir 700 jiwa, di lima kampung Desa Mekarmukti, Cibalong, Kabupaten Garut. Jembatan ini melintasi sungai Cisanggiri. Karena terisolir ini, ratusan murid SD dan SMP tak bisa mengikuti kegiatan belajar.
.
bahu membahu memperbaiki jembatan Rawayan (pikiran-rakyat.com)
13297462141192670873Jembatan gantung  kerap menjadi sarana vital bagi pengguna jalan di desa untuk melintas antar desa. Biasanya jembatan ini menjadi satu-satunya alternatif  fasilitas yang memangkas jarak tempuh yang jauh. Dan seringkali terputusnya sarana jembatan gantung ini mengganggu aktivitas warga sekitar. Perekonomian masyarakat terganggu. Anak-anak tidak bisa berangkat sekolah karena tidak ada akses jalan untuk menuju kawasan kota kecamatan selain memasuki kawasan perkebunan dan hutan dengan jarak tempuh yang kerap lebih jauh. Bahkan kadang mereka  harus turun ke sungai.
Lambannya bantuan pemerintah daerah setempat, seringkali memaksa masyarakat mau tidak mau harus bahu membahu berswadaya mengupayakan perbaikan. Hingga akhirnya dibangun lagi jembatan dengan material seadanya yang tentu saja tak aman dan tak bisa bertahan lama. Kebutuhan mereka menghidupkan perekonomian menjadi salah satu alasan mengapa mereka tak bisa menunggu bantuan lebih lama.
Cerita pilu tentang nasib anak-anak sekolah di pedalaman desa yang sesungguhnya tak jauh dari ibukota, belum lama menjadi sorotan. Mereka anak-anak belia itu harus melewati jembatan-jembatan gantung dengan resiko bertaruh nyawa. Bahkan foto-foto adegan anak-anak sekolah yang melintas di jembatan gantung yang rusak parah ini, diliput kantor berita Inggris Reuters dan media Inggris Daily Mail dengan mengatakan bahwa aksi  mereka mengingatkan pada adegan akrobatik dalam film Indiana Jones. Hingga makin ramailah berita ini diperbincangkan. Duh…betapa memalukan.
1329747531222545512
.
berjibaku bertaruh nyawa demi sekolah (detik.com)
.
Haruskah menunggu jatuhnya korban yang lebih banyak lagi?? Betapa buta dan bebalnya pemimpin negeri ini dan juga para wakil rakyat yang (katanya) terhormat itu, bila mereka masih saja berkutat dengan perbaikan gedung rapat yang sesungguhnya sudah lebih dari cukup memadai. Coba lepas kacamata kudanya pak…sesekali tengoklah kondisi rakyatmu…
.
Salam Prihatin

Salju Luruh di Pirak Timu

SEPARUH hari, sinar matahari terik membakar sebagian besar daerah di Kabupaten Aceh Utara, Jumat (6/5/2011). Seperti suhu politik belakangan ini menjelang pemilihan umum kepala daerah, begitulah cuaca pada siang hari. Namun, matahari hanya bersinar garang setengah hari saja. Setelah itu, mendung datang dan hujan turun dengan deras.
Hasballah Mansur (25) sedang dalam perjalanan dengan mobilnya ketika hujan turun. Semula, ia merasa seperti hujan biasa kendati sangat deras. Ketika mendengar suara guyuran hujan itu terdengar lebih keras dari biasa, seperti ribuan batu kerikil yang ditumpahkan dari langit, Hasballah keluar dari mobilnya untuk melihat apa yang terjadi. Ia menyaksikan pemandangan yang belum pernah dilihat secara langsung seumur hidupnya. Hujan salju turun dari langit bersama air hujan. Hasballah adalah warga Teupin Keube Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, dan ia sedang berada di Matangkuli, bukan di negara Eropa yang terbiasa dengan salju.
Bukannya senang bisa menyaksikan salju secara langsung untuk pertama kalinya. Hasballah justru takut. Ia sempat cemas dan berpikir macam-macam. “Saya malah mengira ini tanda kiamat,” katanya.
Hujan salju bukan hanya turun di Teupin Keube, Matangkuli. Tetapi juga terjadi di Desa Asan Krueng Kreh, Desa Geulumpang, Bunggong, Rayeuk Pange, Matang Keh, dan Meunasah Leupe di Kecamatan Pirak Timu. Selain itu juga terjadi di di Desa Keude Blang, serta Desa Asan Ara Keumudi, Kecamatan Lhoksukon.
Seperti halnya Hasballah, sejumlah warga di kawasan tersebut sempat panik dengan turunnya hujan es di sejumlah desa selama 4 – 15 menit. Penduduk menduga ada bencana karena butiran es sebesar biji jagung menimpa atap rumah mereka sebelum mencair.
Seorang warga Desa Asan Krueng Kreh, Abdul Majid (35), menyebutkan awalnya hujan turun seperti biasa berupa ada air dan sesekali terdengar halilintar. Tak lama berselang, warga mendegar suara keras dari atap rumah. “Setlah saya periksa ternyata hujannya keras seperti es, dan sebesar biji jagung,” ungkap Abdul Majid. Dia sempat memotret hujan es itu dengan menggunakan kamera di handphone. Lalu, butiran es itu pun mencair.
Menurut Majid, masyarakat sempat panik dan ketakutan ketika mengetahui bahwa ada hujan es karena mengira aka nada bencana besar bahkan ada yang mengaitkan dengan tanda-tanda kiamat. “Tapi masyarakat bisa tenang setelah hujan salju berhenti,” tandas Majid.
Kepala Desa Rayeuk Pange, Abdullah, mengaku tidak terkejut lagi dengan kondisi serupa karena sudah terjadi di daerah itu empat tahun silam. “Jadi, masyarakat tidak perlu takut. Hal ini pernah terjadi, hanya ada yang tidak tahu,” katanya.
Sementara itu, di Kecamatan Paya Bakong, Tanah Pasir, Tanah Luas, dan Kecamayan Syamtalira Aron yang merupakan kawasan sekitar Matang Kuli, Pirak Timu, dan Lhoksukon, terjadi hujan deras dan angin kencang tanpa adanya hujan es. Sedangkan di kawasan Kota Lhokseumawe cuaca sangat terik.
Hujan es di daerah tropis merupakan fenomena alam yang sudah pernah terjadi di daerah lain. Salju misalnya juga pernah turun di Jakarta awal 2011 silam. Kondisi cuaca belakangan ini memang sulit diprediksi karena gampang berubah dan memperlihatkan gejala yang tidak lazim sebagaimana hujan salju di Pirak Timu dan daerah lainnya. Namun, gejala alam tersebut bukan berarti harus disikapi dengan kepanikan, apalagi sampai mengambil keputusan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Sudah saatnya masyarakat Aceh lebih mendalami metereologi dan geofisika agar lebih bisa memahami alam, sebelum menjadi korban bencana alam. [ayi jufridar]



Akibat Banjir Bandang di Aceh Utara Lima Kecamatan Tergenang Banjir

 

(Lhokseumawe)  Kabupaten Aceh Utara Kamis (1/12) tergenang banjir. Lima kecamatan di, bandang akibat meluapnya beberapa sungai menyusul diguyur hujan lebat berkepanjangan sejak Rabu (30/11) malam. Kelima kecamatan tersebut masing-masing Lhoksukon, Cot Girek, Pirak Timu, Paya Bakong dan Matangkuli.

"Sampai kemarin sore hari belum ada warga yang mengungsi, sehingga Pemkab tidak membuka dapur umum, tetapi hanya mendrop bantuan masa panik kepada para korban banjir," kata Kepala Penanggulangan Bencana Alam Daerah Aceh Utara, Iskandar Majid kepada wartawan.  Banjir yang menyerang Kecamatan Lhoksukon karena meluapnya Krueng Peutoe dan Krueng Keureuto, di sebabkan tanggul di Desa Kumbang dan U Baro jebol sehingga sebanyak 11 desa terendam banjir.

Danramil 08 Lhoksukon, Kapten Mulyanto membenarkan banjir yang terjadi di daerahnya di sebabkan karena tanggul Desa Kumbang jebol karena tak mampu menahan derasnya air Krueng Peutoe.  Di beritahukan, Muspika Lhoksukon sejauh ini hanya membuka satu posko untuk melakukan koordinasi, dengan menempatkan petugas kesehatan untuk melayani kebutuhan warga.  Sementara Camat Pirak Timu, T.Azwar yang ditanya Analisa memberitahukan, di daerah itu baru Desa Pange yang tergolong parah dilanda banjir, namun tidak sampai membuat warganya mencari tempat aman.

Mukim Pirak Timu, Cut Achmad kepada Analisa mengatakan, banjir bandang di Kecamatan Pirak Timu dikhawatirkan akan meluas karena Krueng Pirak juga telah meluap karena hujan di daerah pegunungan selama dua hari terakhir. Menurutnya, musibah banjir telah melanda 11 desa dalam Kecamatan Lhoksukon sejak pukul 03.00 Wib, karena bobolnya tanggul Desa Kumbang Km VIII dan Desa Buloh KM.IV.

Karena banjir tersebut beberapa sekolah terpaksa diliburkan karena ruangan kelas terendam air setinggi 40 cm, jadi proses belajar-mengajar tidak dapat dilakukan. Banjir juga melanda Kecamatan Pirak Timu, Matangkuli dan Paya Bakong. Di Kecamatan Pirak Timu, sejumlah sekolah yang terpaksa diliburkan antara lain SDN No.14, SDN No.4 dan SMPN No.4.  Banjir mulai melanda Kecamatan Pirak Timu sejak pukul 08.00 Wib, bahkan sore hari sejumlah jalan kecamatan tidak bisa dilintasi kendaraan bermotor lagi karena kedalaman air di atas badan jalan sudah lebih setengah meter. Desa-desa yang terendam banjir di Kecamatan Pirak Timu antara lain Pange, Ara Tonton, Lawang, Alue Thoe, Siren, Ceubrek dan Meunje.
Sofyan, warga Desa Buloh Kecamatan Lhoksukon kepada Wartawan memberitahukan, banyak warga tidak sempat menyelamatkan perabot rumah tangganya, karena begitu tanggul jebol air sangat cepat menyebar. Warga berharap banjir tidak berlangsung lama karena saluran pembuangan sudah banyak. (m.o.a)

BERANDA DAPUR REDAKSI In Memoriam of Hasan Tiro, Wali Negara Aceh

Sepenggal Cerita Detik-detik Terakhir Walinanggro

alm. Teungku Hasan Muhammad Di Tiro

Aku menulis ini dalam cabikan kenangan, dengan kerinduan yang teramat sangat terhadap sosok ini. Sosok yang lahir di Pidie, 25 September 1925. Sang Wali Negara Aceh, Tengku Hasan Muhammad di Tiro.
Oktober 2009"Na, dipat posisi? Hana neujak keunoe, lagoe? Kamoe mandum ka meusapat bak Meuligoe Wali di Lamtemen. Bunoe na Munawar Liza cit. Pakon han neujak sigoe ngon gobnyan?"
"Meuah beurayeuk that, Bang. Lon tuan di UGD, saket. Saleum mantong keu rakan-rakan di sinan. Bah pajan laen Insya Allah lon kalon Wali."
Itu hari Wali memasuki rumah baru di Lamtemen.
2 Juni 2010Pagi."Kamoe na trok jamee dari Pusat. Awak nyan kalon Wali saket. Dron hana jak keunoe, Na? Ka padum uroe Wali saket."
"Lon tuan ban trok dari Sabang. Jinoe na acara siat bak Gedung Sultan II Selim, Seminar Acehnologi. Miseu kaleuh mandum urusan, enteuk lon jak u rumoh saket."
"Got. Enteuk neubithee teuma beuh, aleuh pajoh bu cot uroe lon keuneuk intat awak nyoe u bandara."
Malam."Bang, ke rumah sakit yuk, Na kepingin kali lihat Wali," ujarku pada Kamal Farza.
"Na yakin? Ini udah malam. Apa diizinkan masuk nanti?"
"Yakin. Na harus kesana malam ini, kalau enggak besok gak bisa ketemu lagi. Firasat Na gak enak."
"Baik. Tunggu sebentar ya, Abang telpon teman dulu."

Jadi, bertiga dengan Kamal Farza dan Fajran Zain, malam itu kami berkumpul halaman RSU Zainal Abidin, berbaur dengan puluhan orang yang juga ingin menjenguk Wali, tapi tak diperbolehkan masuk. Mereka saling bergumam dengan topik yang sama, berbincang tentang kondisi kesehatan Wali. Aku segera menghubungi temanku.
"Bang, Na di rumah sakit. Bisa masuk sekarang, gak?"
"Na, ini sudah malam, sudah hampir pukul 11. Tak bisa lagi berkunjung. Besok pagi saja balik kemari, bawa teman yang perempuan, karena kalau sendiri tak diizinkan masuk. Yang lain masuk atas nama partai, orang-orang GAM dari daerah."

"Na bukan anggota partai dan Na tetap ingin masuk, sendiri. Wali bukan milik KPA atau PA. Wali milik seluruh rakyat Aceh, dan Na perempuan Aceh. Na berhak melihat Wali Na," aku berkeras.
"Baik, tunggu di kantin, Abang turun."

Kami bertemu di kantin. Sambil menikmati semangkuk ice cream, pembicaran berputar-putar di topik itu, bisa tidak menjenguk Wali di kamarnya. Temanku menyerah pada sikapku. Setelah berwanti-wanti agar tak kecewa bila tak diizinkan masuk ke dalam, akhirnya berempat kami naik ke ruangan tempat Wali dirawat.
Sepanjang lorong dipenuhi kaum laki-laki. Aku satu-satunya wanita di situ, dan mereka menatapku dengan penuh tanda tanya. Aku tak peduli.

Pintu kaca menuju ruangan tempat Wali dirawat dijaga oleh pengawal, luar-dalam. Aku mencari akal untuk masuk ke dalam.
"Tak bisa masuk, Na, kecuali tadi Na datang dengan teman perempuan. Lagi pula ini sudah jam 11. Yang dizinkan masuk hanya keluarga dan orang-orang terdekat," ujar temanku.
"Pokoknya Na mau bertemu Wali malam ini. Harus malam ini, Na gak bisa menunggu sampai besok. Na akan tidur di depan pintu itu sampai Na diizinkan masuk."
"Sabarlah."

Aku berdiri di dinding, antri bersama barisan panjang laki-laki yang entah sudah berapa lama berdiri di situ. Aku berdo'a, berharap keajaiban muncul. Hampir setengah jam berlalu, kemudian tiba-tiba saja muncul seorang laki-laki bersama seorang wanita dan anak kecil. Laki-laki itu telah melewatiku beberapa langkah di lorong, lalu berbalik dan menyalamiku. Wajahnya tak asing bagiku, dan mungkin wajahku juga tak asing baginya. Tanpa suara aku bertanya pada temanku yang berdiri di kejauhan. "Itu Musanna Tiro?" Ia menganguk, berbicara pelan pada Musanna, dan memberikan isyarat padaku aku mendekat.
"Masih ingat Na? tanyaku pada Musanna. Kami cukup lama berhubungan di dunia maya. Sejak Wali pulang ke Aceh di Tahun 2008 sudah beberapa kali aku ditawari untuk mampir menjenguk Wali ke rumah.

"Iya, yang dari Sabang, kan? Apa kabar?
"Baik, Bang. Kapan sampai ke Aceh? setahuku dia di Amerika.
"Belum lama. Tadi  mampir dulu ke kampung," ujarnya sambil memperkenalkan istri dan anaknya.
"Na minta maaf, baru kali ini bisa menjenguk Wali," ujarku dengan perasaan bersalah.
"Iya, tak mengapa, saya mengerti, Na sibuk. Saya tinggal dulu ya," ujarnya seraya masuk ke dalam. Tinggallah aku dan istrinya bercakap-cakap ringan tentang keadaan masing-masing. Sekitar 20 menit kemudian keluar salah seorang pengawal menjumpai kami, meminta kami masuk ke dalam. Aku masuk, diiringi tatapan puluhan pasang mata.

Ruangan itu steril, pengunjung diminta memakai masker. Aku mengikuti istri Musanna memasuki kamar pertama disebelah kiri, tempat seorang perempuan berbaring. Seorang wanita yang berusia lebih muda duduk di lantai, dan segera bangkit menyalami kami. Rupanya wanita yang lebih tua itu baru kecelakaan, jatuh di kamar mandi. Masih keluarga Wali juga. Tak ingin mengganggu wanita yang sedang beristirahat, kami segera beranjak meninggalkan kamar, menuju ruangan tempat Wali di rawat.

Pandangan mataku terpaku menatap sosok yang terbaring di ranjang. Selimut menutupi tubuh ringkihnya sampai sebatas dada. Tanpa pakaian. Kabel warna-warni melekat di tubuhnya, paling banyak di bagian kepala. Sebuah monitor terus memantau fungsi vital organ tubuhnya. Grafik naik turun itu mencuri perhatianku. Angka bergerak naik turun tak beraturan, kadang-kadang mencapai angka 0, yang membuat nafasku berhenti sesaat sambil berdo'a supaya Tuhan tidak menyiksa beliau dalam penderitaan yang panjang, sekaligus juga tak ingin beliau pergi untuk selama-lamanya.

Istri dr. Zaini duduk di kursi sebelah kanan Wali. Baru selesai membaca Yasin. dr. Zaini tadi kulihat pergi mendampingi Mentroe. Irwandi entah kemana, mungkin sedang beristirahat di salah satu kamar, karena mobilnya masih parkir di bawah. Terpisah dengan gorden, ada pasien lain sedang dirawat.

Aku mengambil Yasin dan bergerak ke tepi ranjang. Seorang laki-laki yang tak kukenal juga duduk di tepi ranjang. Sesekali laki-laki itu berbisik 'La ilaha Ilallah' ke telinga Wali. Seorang perawat muda datang. Gadis itu mengambil kapas basah dan mengusap ke mata Wali sambil mengucapkan 'Allah, Allah'. Aku tak sanggup melihat pemandangan itu, jadi kumulai membuka dan membaca Yasin dengan perlahan.

Disudut kamar, dekat dinding, istri Musanna sedang bercerita perlahan dengan istri dr. Zaini yang rupanya sudah bergerak meninggalkan tepi ranjang. Sesekali terdengar tawa kecil mereka. Aku dapat merasakan mereka menatapku dari kejauhan sambil berbisik. Wajar, mengingat amat terbatas orang yang dapat masuk ke dalam dan bertemu langsung dengan Wali dalam kondisi seperti ini. Alasan lain mungkin pakaianku. Aku mengenakan blue jeans, sementara yang lain mengenakan rok. Ya sudahlah, pikir ku. Aku datang kemari untuk berdo'a, bukan untuk ikut peragaan busana.

Kuselesaikan bacaan Yasin ku sampai tiga kali. Aku tak tahu apakah Bang Kamal dan Fazran masih menungguku di luar. HP kumatikan. Adegan pembacaan Yasin ku diselingi dengan kehadiran perawat dan dr. Zaini yang datang dan pergi mengecek kondisi Wali. Beberapa kali perawat dengan jarum suntik besar datang, saat angka di monitor menunjukkan angka 0. Wali bernafas dengan sangat berat, walaupun dibantu dengan berbagai alat penunjang hidup. Aku merasa iba. Sosok ini begitu berpengaruh di dunia internasional. Orang besar, dengan tubuh yang kecil. Sayang sekali, disaat-saat seperti ini tak ada istri atau anak yang mendampingi. Hidupnya didedikasikan sepenuhnya untuk Aceh yang begitu dicintainya, melebihi segala-galanya. Kini hidupnya bergantung pada alat-alat penunjang hidup dan suntikan. Bila ada orang yang berniat tidak baik..... Ah! cepat kutepis bayangan buruk itu. Takkan ada orang yang cukup gila untuk membunuh 

Wali di Aceh. Aku terlalu banyak membaca novel Agatha Christie, huft.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari ketika aku pamit. Kondisi Wali belum ada kemajuan. Musanna sedang bermain angka dalam Bahasa Inggris dengan gadis ciliknya. Aku ditawari menginap, tapi ku tolak, sambil berjanji bahwa besok pagi aku akan kembali lagi kemari.
3 Juni 2010Pagi."Dipat droneuh Na? Poh padum woe dari rumoh saket beuklam? Hana neubalek lom keunoe?
"Lon tuan di Bitay, Bang. Beuklam ka poh 2 lon woe dari rumoh saket. Na diyue dom inan, tapi han lon tem. Siat teuk lon balek beuh. Lon meujak u peukan siat. Keuneuk bloe bajee." Semalam aku sempatkan diri search di internet tentang Hasan Tiro, dan ku dapatkan sepotong informasi bahwa beliau suka berpakaian rapi dan resmi. Jadi ku putuskan untuk membeli setelan resmi untuk kupakai saat menjenguk beliau pagi ini.

Telpon berdering lagi saat ku sedang berbelanja. "Pakon trep that, pue bajee neu bloe?"
"Blazer, resmi, hitam, tapi kon setelan rok. Pue jeut?"
"Jeut, tapi bek ketat beuh."
"Bereh. Enteuk lon gantoe bajee di rumoh saket mantong. Nyoe ka keumah."
Buru-buru aku menyetop becak. Lalu lintas padat. Kami mengambil rute dari Kuta Alam ke Jambo Tape. Tepat di depan Toko Buku Zikra lewat mobil “Aceh-1” dan pengawalnya. Pengawalnya memberikan isyarat tangan agar kami menepi. Mobil dikendarai dengan kecepatan tinggi. "Mungkin ada tamu penting dari Jakarta," pikirku. Karena seharusnya Irwandi ada di rumah sakit saat ini.
Tepat di depan RSUZA telpon berdering lagi.
"Na, Wali ka meninggai. Ban saknyoe. Dipat droneuh?"
"Lon dikeue rumoh saket. Pue lon tamong u dalam?"
"Bek neutamong le. Le that ureung. Neupreh haba dari lon."
"Get." Kuperhatikan jam, tepat pukul 12:15.

Aku putuskan untuk bergabung dengan Kamal Farza dan Jauhari Samalanga di Lampineung, duduk di salah satu warung kopi sambil memandangi bungkusan baju baru ditanganku dengan lutut gemetar. Aku masih shock. Kucubit pahaku keras-keras dari bawah kolong meja, meyakinkan diri ini bukan mimpi. Sakit ini begitu nyata. Wajah ku pucat pasi. Seperti orang bodoh ku tanyakan pada kedua teman ku, "Kalian tahu Wali sudah meninggal?" Serentak mereka mengangguk. Aku terdiam, tak tahu harus mengatakan apa lagi.
Dering telpon berikutnya meminta ku menuju Mesjid Raya. Becak yang ku tumpangi tiba bersamaan dengan mobil Nazar di gerbang kiri mesjid. Jenazah Wali belum tiba. Aku menunggu di tepi jalan. Rasanya begitu lama. Aku merasa tersesat di tengah kepadatan manusia dan kendaraan yang berlalu lalang. Seperti anak ayam kehilangan induk.
Temanku menelpon lagi.
"Na neumee mukena, Na? Menyoe na, neutamong u dalam mesjid. Siat teuk kamoe ka trok u Mesjid Raya."
"Hana, Bang. Lon preh di lua mantong."
"Jeut cit. Pue na ngon inan?"
"Hana, sidroe sagai."
"Neupreh dikeu mesjid, enteuk neuek moto sajan ngon poe rumoh dr. Zaini. Kaleuh lon peugah bunoe. Tanyoe jak antat Wali u Meureue. Neugantoe aju bajee."

Aku melambaikan tangan menyetop becak dan pulang ke rumah. Rasa kaget ku telah hilang, digantikan oleh rasa kehilangan dan kesedihan yang menjalar dengan cepat ke seluruh simpul syaraf ku.  Hanya Wali yang boleh melihat ku mengenakan blazer hitam itu pada hari itu. Jadi aku memutuskan untuk pulang, berduka dan berbagi kesedihan dengan diri ku sendiri. Aku tak sudi berbagi air mataku dengan orang-orang yang tak ku kenal.

Kenduri mulai hari pertama sampai hari ke seratus wafatnya Wali terus mengalir dari Musanna. Tak satu pun ku hadiri sampai-sampai setengah bergurau setengah kesal ia mengatakan takkan mengundang ku lagi bila aku terus-terusan tak hadir. Aku tak sanggup, bukan tak mau. Enam bulan kemudian baru aku sanggup berziarah ke Meureue. Dalam rentang waktu 6 bulan itu aku terus menerus menyalahkan diri ku sendiri. Mengapa aku harus pulang malam itu. Mengapa tak tinggal saja di rumah sakit, mendampingi Wali pada saat-saat terakhirnya. Mengapa dan mengapa itu tetap bergema sampai sekarang. Yang paling bergema dan menusuk pikiran ku adalah mengapa sepeninggal Wali kita jadi begini?

The Island, Desember 15, 2011.

Nurlina


Diposkan oleh Tabloid SUARA PUBLIK di 20:29

Kode Pos Kecamatan Pirak Timu

 

kode posss

Tiga Kecamatan Dilanda Banjir

.

Banjir di Hagu

Ruas jalan di Gampong Hagu Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara terendam banjir, Kamis (19/4) akibat meluapnya Krueng Pirak.(Pikiran Merdeka/Saifullah)

Lhoksukon–Akibat meluapnya Krueng Keureto, tiga kecamatan di Aceh Utara dilanda banjir, Kamis (19/4) pagi. Puluhan desa dan beberapa ruas jalan terendam.

Ketinggian air bervariasi antara 50 centimeter hingga dua meter. Sejauh ini belum ada warga yang mengungsi. Tiga kecamatan yang dilanda banjir masing-masing, Kecamatan Pirak Timu, banjir melanda Gampong Tanjong Serkuy, Meunasah Krueng, Rayek Pange, Pange, Bungong, Gelumpang, Hasan Krung Kreh.

Di Kecamatan Matangkuli meliputi Gampong Hagu, Meuria, Alue Thoe, Lawang, Tempok Barat dan Desa Tanjong. Terdapat beberapa ruas jalan yang tergenang yakni di Jalan Chik Paya Bakong Gampong Hagu, lintasan jalan Gampong Lawang, dan lintasan Gampong Alue Thoe. Sementara di Kecamatan Lhoksukon, banjir menggenangi kawasan komplek pasar ikan dan beberapa rumah warga di Kampung Baru dan Gampong Dayah.

Kepala Dusun Makmur Gampong Hagu, M Jamil kepada Pikiran Merdeka menyebutkan ketinggian air di desanya sekitar satu meter.  Sementara di lintasan jembatan Keude Cebrek ketinggian air mencapai 2 meter. “Air mulai naik ke desa sejak pukul 06.30 WIB. Sejauh ini ketinggian air masih bertahan, namun jika hujan di kawasan pegunungan Bener Meriah, air akan terus bertambah,” kata Ismail, 55, warga Desa Meuria.

M Jamil dan Ismail berharap, kepada Pemda Aceh Utara agar segera melakukan normalisasi sungai, guna penanggulangan banjir akhir tahun nanti.  “Jika membangun tanggul sungai membutuhkan anggaran besar, maka kita rasa normalisasi sungai bisa menjadi langkah tepat. Setidaknya saat banjir melanda, air bisa cepat surut dari desa, mengingat saat ini sungat mulai menyempit,” harapnya.

Hal yang sama juga disampaikan T Nailul Amani, 29, warga Gampong Parang Sikureung. Menurutnya, air mulai masuk ke pemukiman warga sejak pukul 04.00 Wib pagi karena meluapnya Krueng Pirak. “Sungai juga sudah dangkal karena longsoran tebing. Kalau tidak segera dikeruk maka setiap hujan lebat air sungai akan terus meluap,” katanya.

Nurdin Keuchik Matang Tengoh Kecamatan Lhoksukon, mengungkapkan, banjir merembes ke rumah warga disebabkan tanggul Krueng Keuretoe di kawan KM VII di Gampong Dayah jebol.

Sementara Camat Matangkuli, Syarifuddin mengatakan, pihaknya sudah berulang kali menyampaikan masalah pelebaran sungai ke dinas terkait agar sungai itu dinormalisasi. “Kami sudah puluhan kali menyampaikan masalah pelebaran sungai, membuat tanggul dan waduk, tapi belum ada respon apapun,” jelasnya.

Pantauan Pikiran Merdeka, sejak pagi sampai siang, banjir terparah terjadi di Gampong Hagu dan Alue Tho. Secara keseluruhan luapan air Krueng Pirak meliputi tiga kecamatan yakni Kecamatan Matang Kuli, Pirak Timu, dan Lhoksukon. Di Kecamatan Matangkuli banjir melanda Gampong Lawang, Alue Entok, Tumpok Barat, Hagu, Meuria, Lawang, Parang Sikureueng, Tanjong Tgk Ali, Tanjong Abah krueng,  Alue Tho, dan Gampong Siren.

Sementara di Kecamatan Pirak Timu desa yang tergenang adalah Gampong Tanjung Serekui, Rayeuk Pange, Krueng Pirak, Leupe, Alue Bungkoh, dan Matang Glumpang. Sedangkan di kecamatan  Lhoksukon banjir merendam puluhan rumah di  Gampong Teungoh, Babah Geudubang,  Dayah, dan beberapa desa lainnya.[pm/cid/csf]

images7    images8

images14    index15

Minggu, 20 Mei 2012

Jembatan Putus, Sembilan Desa Terancam Terisolasi


ACEH UTARA | ACEHKITA.COM — Sembilan desa terancam terisolasi akibat jembatan yang terletak di Desa Asan, Lhoksukon, Aceh Utara, Mingg (18/12) siang, putus akibat tetimpa pohon pinang.

Jembatan yang amblas ke sungai. | Foto: Feri F
Jembatan itu menghubungkan tiga kecamatan di Kemukiman Lhoksukon Barat, Lhoksukon. Dampak runtuhnya jembatan yang melintasi krueng kreh itu juga menyebabkan Muhammad Yusuf (60) mengalami luka-luka. Warga penjual pinang asal Desa Geulumpang berhasil menyelamatkan diri.
Warga Desa Krueng Kreh, Muhammad Nasir (42) mengatakan, sembilan desa yang terancam terisolasi yaitu Desa Asan Krueng Kreh, Beuracan, Glumpang, Trieng, Reungkam, Keutapang, Bilie Baroe, dan Desa Bungong di Kecamatan Pirak Timu, serta Desa Beurandang di Kecamatan Cot Girek.
“Selain desa yang terisolir, ratusan murid di empat sekolah di kecamatan tersebut terancam tak bisa bersekolah,” kata Muhammad Nasir.
Jembatan itu putus akibat blok penahan di sayap kiri jembatan ditimpa pohon pinang yang tumbang. Jembatan sepanjang 150 meter dengan leber 1,5 meter itu, dibangun pada 1982 dan terakhir direhabilitasi pada 2006 lau. Di sini, satu unit mobil tanki milik PDAM Tirta Mon Pase terperosok ke sungai.
Warga berharap jembatan itu segera dikerjakan kembali dan dibangun permanen. “Jembatan tersebut merubakan jalur perekonomian masyarakat guna membawa hasil tani, serta lintasan para pelajar untuk ke sekolah. Jika tidak segera diperbaiki, maka dapat dipastikan empat sekolah akan lumpuh total,” kata Nasir.
Sementara itu, Pj Bupati Aceh Utara M Ali Basyah, menyebutkan, pihaknya akan mengupayakan melakukan perbaikan darurat untuk solusi jangka pendek, sehingga dapat dilalui kembali, khususnya oleh pejalan kaki dan pelajar.

Pasca ambruknya jembatan gantung Meunasah Asan Krueng Kreh

 

Lhoksukon- Pasca ambruknya jembatan gantung Meunasah Asan Krueng Kreh, Lhoksukon kemarin. Pihak BPBD Aceh Utara menempatkan boat fiber untuk membantu arus transportasi warga. Petugas telah stand by dilokasi sejak pukul 06.00 wib, Senin (19/12) yang siap me387474_234953249914298_100001988758487_529336_2087065525_nmbantu penyebrangan warga. Pantauan wartawan koran ini, petugas BPBD Rescue dan tim SAR Aceh Utara sejak pagi telah membantu para siswa dan masyarakat menyebrang dari Kecamatan Pirak Timu menuju Lhoksukon. Para petugas terpaksa harus hilir mudik saat membantu proses penyebrangan.

Menurut seorang staf BPBD Rescue Aceh Utara, Darsa, pihaknya sejak kemarin telah diperintahkan untuk membantu masyarakat di lokasi ambruknya jembatan. Mengingat hal tersebut, sejak subuh para petugas telah datang membawa boat kelokasi. "Kami telah bekerja sejak tadi pagi hingga siang ini. Rencananya kami akan membantu hingga sore hari sebelum magrib,”ucap Darsa kepada wartawan koran ini, dilokasi jembatan ambruk.

Sambungnya, penyebrangan agak ramai pada saat pagi hari dan siang hari. Dimana pada saat itu banyak para siswa dan warga yang beraktifitas. Bantuan penyebrangan itu sendiri tidak dipungut bayaran apapun dari masyarakat. Apalagi menurutnya saat ini para siswa sedang mengikuti ujian sekolah. “Dalam membantu penyebrangan, kami juga menyiapkan baju pelampung kepada warga. Ini bentuk antisipai bagi warga yang tidak bisa berenang,”ucapnya.

Sementara itu, kondisi jembatan yang ambruk kemarin terlihat belum dilakukan perbaikan oleh dinas terkait.

Bahkan dilokasi terlihat badan jembatan telah terendam air akibat air sungai yang meninggi. Sehingga para petugas dari dinas Bina Marga untuk memperbaiki jembatan menjadi terkendala.“Pagi hari kami telah mendatangi lokasi jembatan. Maksudnya kami ingin membongkar material jembatan untuk kita selamatkan. Tetapi air sungai sedang tinggi, sehingga kami sulit menarik lantai serta besi jembatan,”ucap Syamsuddin Bentara, plt Kadis Bina Marga Aceh Utara.

Ditanya terkait anggaran yang dibutuhkan untuk perbaikan jembatan tersebut? Pihaknya kini sedang menyusun rancangan anggaran biaya (RAB) untuk perbaikan jembatan tersebut. Diperkirakan akan menghabiskan dana sekitar Rp.1,2 miliar untuk memperbaiki jembatan gantung Asan Krueng Kreh. (agt)

Sabtu, 12 Mei 2012

Panji Sang Penakluk Tewas Dicabik Komodo



Berita tentang tewasnya Panji Sang Penakluk masih belum jelas kebenarannya. Berita ini juga saya dengar dari teman saya. Saya pun penasaran dan mencarinya di internet, pas saya ketik "Panji Sang Penakluk Tewas", busyett ternyata berita ini sudah cukup heboh di internet. Wah.. kalo berita ini benar, kasihan juga yaa Panji. Ya udah para ABC (Andatahuuu.blogspot.com) inilah berita tentang kematian Panji, cekitdot...



Kegagalan Panji sang penakluk untuk melawan kebuasan kadal raksasa itu harus ditebus dengan nyawanya. Pada saat pengambilan gambar aksinya “menaklukan” kadal raksasa itu tanpa di duga, sang komodo yang tampak gusar karena merasa terganggu, mengamuk dan menyerang panji secara membabi buta.


Aksi panji dengan gaya-gaya nya yang terbilang nekad dan rusuh itu, saat ia berusaha menaklukan komodo berukuran 2,5 meter dengan cara menarik narik ekor komodo tersebut secara kasar, sang komodo kelihatan enggan melayani aksinya dan mencoba lari ke semak semak.


Melihat sang komodo itu tampak enggan melayani aksinya dan mencoba lari ke semak membuat  panji makin kasar dan brutal dengan cara memaksa menarik ekornya, hingga pada satu titik hewan peninggalan prasejarah itu benar-benar tidak bisa menahan amarahnya, akhirnya sang penakluk ini di kejarnya hingga beberapa puluh meter, panji pun yang sama sekali tidak menduga respon komodo tsb lari kalang kabut, pontang panting.


Pada saat lari menghindar dari amarah binatang tersebut Panji sempat melemparkan tasnya ke arah komodo, dengan maksud mengalihkan perhatian binatang itu, tapi ternyata komodo sudah tidak mampu menahan amarahnya yang ia tahu hanya ingin mengejar panji (bukantas), hanya dengan satu terkaman khasnya yang kuat seperti ketika mencabik sapi yang sering dimangsa, rontoklah tangan kanan panji di sambar kadal raksasa itu,


Detik selanjutnya makin parah karena sang komodo benar2 melampiaskan kemarahan dan laparnya, setelah di cabik cabik, tampak isi perut panji di lalap habis… oh Tuhan malang benar nasib pemuda ini.


Kameraman yang mengambil gambar tak bisa berbuat apa apa, tapi ia tak ada pilihan lain kecuali terus mengarahkan kamera pada adegan mengerikan itu, jeritan panji yang memilukan minta tolong pun sontak hilang saat kuku tajam komodo tsb menggasak lehernya, crottt… srettt srett.. darah mengalir deras, Ya… hidup memang kejam, kalau kita tidak mampu menempatkan diri pada tempat yang seharusnya.

Nah, gimana tuh menurut kalian, benarkah berita tersebut?

Dari berita ini, kita bisa mengambil suatu pelajaran bahwa biarlah hewan hidup dengan tenang, hidup dengan cara mereka dialam sana. seandainya kita menganggunya maka akibatnya begitu fatal. kita ambil contoh saja, seandainya kita diganggu pasti kita akan merasa kesal dan bahkan ingin memukul orang yang menggangu kita. Begitu pun hewan, hewan juga dapat merasakan itu, apalagi hewan yg digangu adalah hewan buas. wahh.. wassalam deh klo gitu.

Kurang Puas? Baca aja di Anda Tahu?: Panji Sang Penakluk Tewas Dicabik Komodo http://andatahuuu.blogspot.com/2012/02/panji-sang-penakluk-tewas-dicabik.html#ixzz1uiAcZ9mf
Anda Tahu?