Sample Text

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 18 Januari 2012

Cara Membuat Antivirus

Aktifitas kita kadang terganggu dengan kehadiran virus yang berbahaya, bandel dan merusak. Untuk itulah kita perlu lebih kreatif lagi untuk memiliih antivirus yang tepat. Namun kini anda bisa juga belajar bagaimana cara membuat antivirus dari yang sederhana hingga yang kompleks dengan memanfaatkan beberapa program yang telah tersedia. Dengan kehadiran antivirus tersebut, kita tidak perlu takut lagi saat ingin menginstal atau memasukkan data kedalam program kita termasuk software master poker. Anda bisa membaca cara membuat antivirus tersebut dari hasil pencarian “google.co.id” dengan menggunakan kata kunci yang berhubungan seperti dibawah ini
  1. Judul Cara Praktis Membuat ANtivirus Komputer Penulis A.M. Hirin antivirus pribadi, atau mungkin antivirus publik yang ampuh buatan sendiri? Hal maupun teknik sederhana yang membawa kontribusi luar biasa bagi sebuah Antivirus. Mencegah upaya copy data ke flashdisk tanpa izin

  2. Membuat antivirus sendiri dengan Notepad yang saya sunting dari youtube, kalau selama ini kita mengenal cara membuat virus sendiri kita harus membuat antivirusnya sendiri dengan script-script yang sederhana

  3. Kali saya akan membagi sedikit dari ilmu yang saya punya. Mx One antivirus merupakan antivirus yang di design khusus. cara sederhana untuk membuat koneksi dengan SQL Server Database

  4. Sekarang kehadiran para virus maker selanjutnya disingkat jadi VM. Mari kita belajar membuat sebuah AV sederhana, yang diperlukan dari ancaman virus, kita bisa membuatnya sendiri dengan fitur-fitur

  5. Sementara update antivirus kita belum mampu mengenali program jahat yang. Untuk virus lokal sendiri sebenarnya mudah untuk Apakah membuat file duplikat, menyembunyikan file, menginjeksi file, atau menampilkan pesan tertentu. Pahami cara kerja virus

Incoming search terms:


cara membuat antivirus,cara membuat anti virus,cara membuat antivirus sendiri,cara membuat antivirus sederhana,cara buat antivirus,cara membuat antiVirus Komputer,membuat antivirus,membuat anti virus,cara buat anti virus,tutorial membuat antivirus

Selasa, 17 Januari 2012

Cara Membuat Video Menjadi Background Desktop Di windows 7

Ok kali ini aku akan berbagi tips membuat Video menjadi Desktop Background di Windows 7. Mungkin dari temen – temen sudah banyak yang tau caranya tapi mungkin tips yang aku berikan berguna bagi yang belum tahu. Sebelum memulai tips tersebut perlu di ketahui untuk format videonya haruslaah dengan format mpg atau WMA, Ok untuk membuatnya di sini perlu menggunakan bantuan software Windows7-DreamScene. langsung saja kita memulai cara Membuat Video Menjadi Background Desktop Di windows 7.

1. Instalah software Windows7-DreamScene

Gambar instal Windows7-DreamScene



Kemudian akan muncul gambar seperti di bawah ini, dan klik satu kali pada Aministrator Windows7-DreamScene masukan huruf atau angka terserah bebas.dan proses instal segera berjalan.



Setelah selesai kemudian akan muncul gambar seperti di bawah ini, dan explorer akan restart secara otomatis kemudian langsung close saja halaman tersebut.



Setelah itu copy Video format mpg atau wma dan paste di C./windows/web/Windows DreamScene.



Gambar Paste nya di bawah ini.



Kemudian klik kanan pada video yang akan di jadikan Background dan pilih Add To Windows Player List.



Dan langkah terakhir adalah klik kanan pada video pilih Set as Desktop Background.



Dan selsailah sudah prosesnya dan Desktop akan memiliki background Video. perlu di ketahui background tidak akan mengeluarkan suara jadi tidak akan mengganggu apa bila kita sedang play musik, demikan sedikit tips dari saya semoga bermanfaat dan bila ingin mencoba semoga berhasil.

Untuk software Windows7-DreamScene Bisa di download di sini.

SaLaM SeMaNgAt

Jumat, 13 Januari 2012

Daftar Lokasi dan Alokasi Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) PNPM Mandiri 2012

Dalam rangka pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Tahun Anggaran 2012, bersama ini kami sampaikan Daftar Lokasi dan Alokasi Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) PNPM Mandiri Tahun Anggaran 2012. Alokasi BLM PNPM Mandiri T.A 2012 untuk setiap daerah ditetapkan secara proporsional dengan tetap berpihak kepada masyarakat miskin (pro-poor).

Daftar Lokasi dan Alokasi BLM PNPM Mandiri Tahun 2012 ini menjadi acuan bagi seluruh pengelolaan program-program penanggulangan kemiskinan yang berbasis pemberdayaan masyarakat, baik yang diselenggarakan oleh Pusat maupun Pemerintah Daerah.
Adapun Daftar Lokasi dan Alokasi BLM PNPM Mandiri Tahun 2012 adalah:
Buku Lengkap Daflok PNPM 2012

Sedangkan file untuk masing-masing bab dan masing-masing propinsi dapat diunduh terpisah pada daftar berikut :

4. Riau
11. Banten
17. Bali
30. Maluku
33. Papua

Memfasilitasi Keragaman

By admin
Keragaman itu seperti pisau bermata dua. Dia menjadi sumber kemajuan masyarakat, jika warganya mampu mengubah perbedaan-perbedaan menjadi kekuatan bersama yang produktif. Sebaliknya, dalam kasus yang ekstrim, dia jadi sumber kehancuran, khususnya, bila keragaman selalu berbuah konflik yang lestari.
Belajar dari pendekatan penanganan konflik antar-individu, seperti dikemukan Thomas dan Kilman (1986), ada dua dimensi mendasar yang perlu dicemarti, yakni assertiveness (kepedulian terhadap diri sendiri) dan cooperativeness (kepedulian terhadap orang lain). Dari dua dimensi ini muncul lima gaya, yakni 1) avoiding/ penghindaran (baik assertiveness maupun cooperativeness berada di tingkat rendah), 2) competing/ persaiangan (assertiveness tinggi, sementara cooperativeness rendah), 3) accommodating (assertiveness rendah, sementara cooperativeness tinggi), 4) collaborating (assertiveness mapun cooperativeness tinggi), dan 5) compromising (assertiveness dan cooperativeness pada tingkat sedang).
Dalam isu-isu yang sentral bagi masyarakat, avoiding, competing dan accommodating bukan pendekatan yang ideal. Avoiding tidak “menyelesaikan masalah”, malah, membiarkan potensi-potensi konflik terus hidup untuk menunggu waktu meledak. Sementara, competing yang terlalu tinggi berpotensi untuk menghasilkan perpecahan. Pada sisi lain, accommodating dapat menghasilkan dominasi dan akhirnya, relasi yang tidak lestari. Kelompok yang “manutan”, tanpa menunjukkan sikap, pendapat dan pendiriannya, cenderung rentan untuk didominasi/ dieksploitasi kelompok lain.
Untuk isu-isu penting, fasilitator perlu membantu proses collaborating atau compromising. Di keduanya keragaman dihargai karena setiap kelompok atau individu diberikan ruang untuk menunjukkan sikap dan pendapat. Jadi, ada ruang untuk menjadi assertive. Dalam kerangka kerja fasilitasi, ini yang disebut sebagai tahap divergensi.
Lebih lanjut, fasilitator memproses agar setiap sikap dan pendapat yang mengemuka dipelajari dan dicoba untuk dipahami bersama-sama. Jadi, sikap atau pendapat bukan sekedar dilontarkan lantas menguap begitu saja. Fasilitator mesti memproses tahap saling memahami (mutual understanding). Di sini dimensi cooperativeness (kepedulian terhadap orang lain) mulai disentuh.
Tahap selanjutnya adalah adalah konvergensi di mana sikap dan pendapat mulai dikerucutkan, dikombinasi, dilebur, dipilih atau bahkan menjadi inspirasi untuk memunculkan ide baru secara bersama. Kembali, di sini yang ditekankan adalah dimensi cooperativeness.
Kerja fasilitator pada dasarnya menyeimbangkan dimensi assertiveness dan cooperativeness sehingga menjadi kekuatan bersama. Dalam konteks Indonesia, rasanya dibutuhkan banyak fasilitator yang bisa memanfaatkan keragaman bangsa menjadi kekuatan untuk kemajuan bersama.  Risang Rimbatmaja

Artikel Terkait :

Guru Fasilitatif


By admin
Gagasan guru sebagai fasilitator bukanlah ide baru. Sebagai fasilitator, guru tidak diposisikan sebagai sumber pengetahuan tunggal yang serba tahu dan di lain  pihak, murid dianggap sebagai “gelas kosong” yang tidak tahu apa-apa dan juga, tidak bisa mencari tahu. Sebagai fasilitator, guru “mempermudah” murid untuk mencari dan “memproduksi” pengetahuannya sendiri.
Gagasan guru sebagai fasilitator rasanya tidak sulit dipahami. Yang kerap menjadi tantangan justru bagaiamana cara mengaplikasikannya.
Dalam sebuah diskusi dengan kelompok mahasiswa, Lapangan Kecil belajar tentang sejumlah karakteristik pengajar yang kurang disukai mahasiswa, diantaranya adalah, 1) pengajar dinilai tidak mengajarkan apa-apa dan hanya menyuruh mahasiswanya membaca dan mengerjakan tugas, 2) pengajar kerjanya hanya bertanya-tanya, bahkan ketika ditanya, dia justru balik bertanya.
Hmm….rasanya gagasan guru sebagai fasilitator bukan berarti lepas tanggung jawab atau bahkan bersikap instruktif (atapun bahkan otoriter dan koersif).
Dalam pengalaman Lapangan Kecil, yang sangat krusial adalah menerjemahkan posisi guru fasilitator menjadi keterampilan menjadi guru fasilitatif. Dalam konteks murid secara individual, guru fasilitatif mampu membangun hubungan yang kondusif dengan rasa saling percaya. Dia lihai bertanya bukan untuk menguji atau bahkan menghakimi, namun membantu murid berpikir dan menemukan jawabannya sendiri. Dia mendengarkan dengan aktif bukan untuk mencari kesalahan murid, namun untuk belajar dari muridnya sendiri, menunjukkan perhatian, empati,dan sekaligus menunjukkan kekuatan yang dimiliki muridnya.
Dalam konteks kelompok murid, khususnya di satu kelas, guru fasilitatif terampil untuk menjadi seseorang yang terampil membuat murid saling kenal, saling berpendapat dan mendengarkan, bekerjasama secara positif. Kubu-kubu murid yang tadinya mengeras (biasanya di dalam kelas ada blok dan wilayah tempat: geng belajar, geng pembuat onar, geng borju dll), dicairkan oleh guru fasilitatif melalui percakapan yang demokratis dan juga kerja aktif murid-muridnya. Guru fasilitatif bisa mengelola dinamika yang rasional ataupun emosional menjadi keharmonisan, kesepakatan dan kerjasama. (Risang Rimbatmaja)

Artikel Terkait :

Aplikasi Pendekatan Berbasis Kekuatan di Isu Lingkungan

By admin
Dalam 10 tahun terakhir pendekatan berbasis kekuatan atau strength based approach banyak digunakan di Indonesia. AI (Appreciative Inquiry) atau PD (Positive Deviance) adalah contoh-contoh metode dengan pendekatan kekuatan. AI banyak digunakan untuk berbagai isu termasuk lingkungan dan bisnis. Sementara, PD kelihatannya lebih banyak digunakan kawan-kawan di sektor kesehatan.
Beberapa literatur menyebut praktik strength based sudah muncul beberapa dekade lalu. Bahkan, Healy (2005) melihat tahun 1940an sudah ada praktisinya, yakni Bertha Capen Reynolds yang saat itu mengritik penggunaan adopsi diskursus psikoanalisis yang tidak kritis. Dia melihat kebanyakan pekerja sosial terlalu melihat patalogi ketimbang kekuataan dan kapasitasnya. Intinya memang pendekatan kekuatan mengambil jalur yang berbeda dibanding penekatan deficit atau masalah (problem solving).
Belajar dari sejumlah pengalaman, beberapa fasilitator Lapangan Kecil yang tengah membantu Puskotling (Jakarta) mencoba menerapkan pendekatan berbasis kekuatan dalam isu lingkungan (penghijauan) di perkotaan, tepatnya di Pasar Manggis. Projeknya sendiri berfokus di 3 RW, yang terdekat dengan pasar dan memiliki kepadatan paling tinggi.
Setelah melakukan rembug di tingkat kelurahan, proses pencarian kekuatan dijalankan dengan mengajak kader-kader Posyandu berkeliling mencari sudut-sudut kampung yang dinilai bagus. Di antara kerapatan rumah-rumah dan sela-sela gang kecil yang bercabang-cabang ternyata tetap ditemui sudut-sudut yang hijau yang rindang dan rapih. Di sudut-sudut yang hijau dan indah itu kader dan fasilitator kemudian melakukan wawancara yang apresiatif dan kemudian berfoto ria. Sudut-sudut hijau nan indah itu pun difoto secara khusus. Foto-foto dan pengetahuan-pengetahuan yang didapat kemudian dibawa dalam rembug RW.
Rembug di RW 04 berlangsung malam hari di selasar kantor RW. Kantor RW 04 sendiri terletak di belakang pasar, di pinggir jalan. Walhasil, sesekali bajai dan motor melintas membuat sedikit noise. Ada sekitar 30 lebih partisipan yang hadir, kurang lebih meliputi Pak RT, pemuda, ibu-ibu Posyandu/ PKK dan aktivisi ormas.
Untungnya, tim lebih banyak menggunakan teknik kelompok kecil sehingga diskusi bisa berlangsung intensif per kelompok. Foto-foto diperlihatkan dan dibagi untuk kemudian didiskusikan: Di mana tepatnya ini? Apa enaknya atau tidak enaknya kondisi ini? Untuk mengantisipasi kurangnya dinamika, di setiap kelompok disisipkan juga 1 foto yang negatif (umumnya selokan yang penuh sampah).
Diskusi dalam kelompok terlihat berlangsung ramai. Awalnya seperti tebak-tebakan dan penuh guyonan, ini tempat siapa? Apa tempat Pak Parman? Bu Ani? Kaynya kok ga kaya begini ya?
Setelah diketahui lokasi foto, diskusi masuk ke tahap kedua tentang enak dan tidak enaknya kondisi di foto. Di sini mulai tampak serius.
Ketika ditanya, mana kondisi yang diinginkan, terpilih foto-foto positif yang menjadi acuan bersama.
Dan, tidak lama berselang, secara alamiah, muncullah pertanyaan/ tantangan dari warga dalam bentuk ungkapan: “Pak, action-nya bagaimana ini projek?”; “Bang, ini kita jangan diajak ngomong saja…”; “Kalau diskusi-diskusi kaya begini, sudah sering kita.”
Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.
Teknik dasar fasilitasi kemudian digunakan. Tim fasilitator pun berespon, “Kalau begitu, sekarang apa mesti dilkaukan agar ini bukan omdo (ngomong doang), diskusi doang. Supaya bisa jadi action nyata, apa yang mesti dilakukan?”
Kemudian muncul empat ide utama: pelatihan menanam, membuat kompos, bantuan tanaman, dan sosialisasi. Satu minggu kemudian, tepatnya tanggal 30 Oktober, pelatihan tanam menanam dan pembuatan kompos dilaksanakan. Dari 4 pelatih, 3 pelatih berasal dari RW itu sendiri. RW itu ternyata memiliki ahli tanam menanam dan ahli pembuatan kompos. Selain warga RW itu, perwakilan warga dari RW lain dan LMK pun ikut bergabung. Interaksi di pelatihan memunculkan ide/ komitmen/ motivasi baru, seperti RW itu sebagai pilot projek untuk pembuatan pupuk cair dan kompos yang akan diperluas ke RW-RW lain bila berhasil, dan membantu pelatihan RW-RW lain.
Apakah bisa dikatakan projek ini berhasil? Belum tahu. Perjalanan masih panjang. Yang jelas, ini masih tahap awal.

Artikel Terkait :
 

Bukan Sekedar Ngomong

By admin
Seorang fasilitator pernah berkeluh kesah pada kami, “Masyarakat sekarang susah. Kalau kita hanya ngomong doang, tanpa ada bantuan nyata, program tidak akan jalan,” ujarnya. Yang dimaksudnya dengan bantuan nyata di sini adalah material atau bahan dan peralatan untuk konstruksi. Jadi, kalau mau bangun jalan, dianggapnya fasilitator mesti membawa bahan seperti pasir, batu kerikil atau aspal.
Anggapan seperti itu mungkin saja betul atau mungkin salah. Tapi, yang jelas, “ngomong” bukan sesuatu yang tidak berarti. Dalam pandangan konstruktivis, “ngomong” sudah merupakan bagian dari aksi sosial (social action). Bahkan, tanpa “ngomong”, tidak mungkin ada aksi sosial.
Banyak peristiwa-peristiwa besar di Indonesia yang terjadi karena ngomong. Proklamasi berawal dari diskusi-diskusi kecil tokoh-tokoh pemuda Indonesia pada jaman itu. Peristiwa sumpah pemuda juga sebetulnya merupakan “omongan”.
Jadi, jangan pernah mengecilkan “ngomong-ngomong”.
Kalau masyarakat menganggap fasilitator itu ngomong doang, rasanya itu betul, karena yang ngomong hanya sang fasilitator masyarakat. Wacana didominasi oleh fasilitator dan dia mungkin tidak memberi ruang bagi masyarakat, kecuali ruang konfirmasi: Apakah ibu/ bapak setuju? Setuju? Ada yang keberatan?
Jadi betul, fasilitatornya ngomong doang tapi tidak memberi warga untuk ikut membangun omongan. Bila demkian yang terjadi, tak heran bila tidak terjadi aksi sosial. Yang terjadi ada aksi individual (fasilitatornya ngomong terus dan mendominasi), tapi tidak ada omongan bersama.
Yang jelas manusia itu bukan robot. Omongan bagi manusia bukanlah sekedar instruksi atau kepatuhan yang sifatnya represif, tapi justru wadah untuk ber-ekspresi dan menghadirkan diri sebagai warga. Bila ruang itu tidak dibentuk, maka sulit untuk memunculkan perasaan memiliki, tanggung jawab atau partisipasi.
Saat ini jaman sudah berubah. Warga Indonesia bukanlah robot, yang bisa direpresi seperti di era orde baru. Warga kita semakin otonom di mana keputusan ada di tangan mereka masing-masing. Risang Rimbatmaja

Artikel Terkait :