Sample Text

Kamis, 26 Januari 2012

Teknologi Bambu Plester untuk Rumah Ramah Lingkungan


Indonesia yang semakin pesat dan berkembang yang kemudian menuntut untuk menciptakan kreasi-kreasi teknologi yang semakin maju. Masyarakat yang sering menggunakan teknologi beton yang semakin lama material yang dibutuhkan untuk membuat beton itu sendiri. Material yang ada pun semakin lama akan berkurang, namun material yang ada pun tidak bertambah. Meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk membutuhkan material yang semakin lama-semakin berkurang sehingga semakin bertambahnay hari yang ada, material bangunan akan semakin mahal dan jarang


Teknologi yang tersedia pun tidak cuman teknologi beton. Masih ada beberapa teknologi yang dapat diaplikasikan untuk menjadi material utama dalam komponen elemen struktur. Seperti materal baja, kayu atau material komposit (Campuran). Untuk masyarakat awam saja yang lebih mengenal teknologi beton dan seringnya hanya menggunakan campuran untuk beton (istilah awam : cor) dengan rasio perbandingan semen:pasir:kerikil yaitu 1:2:3. Masih untung ketika sang pemborong berpengalaman sehingga dalam mencampurkan air ke dalam campuran dalam batas wajar. Tidak jarang, saya menemukan campuran beton yang umumnya harus lebih keras dan padat daripada plesteran, namun memiliki tekstur dan bentuk hasil yang persis dengan plesteran (sehingga tidak jarang tulangan/besi yang ada di elemen struktur nampak), walaupun kejadian tersebut saya cuman melihat di beberapa rumah teman-teman saya non-civil engineer yang dalam proses pembuatan/konstruksi. Mungkin kalau saya berbicara tentang beberapa kekurangan-kekurangan yang sering terjadi pada proses konstruksi kecil-kecilan (segala proses konstruksi yang tidak dikelola oleh perusahaan professional/besar) yang sering hanya dilakukan oleh banyak pemborong-pemborong tidaklah cukup. Untuk masalah tersebut mungkin ketika ada waktu dan pengalaman yang lebih dapat saya peroleh ketika lulus nanti akan lebih baik karena saya telah melakukan praktek di lapangan (setidaknya).


Source :http://bamboocentral.org


Untuk kesempatan ini, saya akan lebih menerangkan tentang suatu teknologi yang belumm terkenal seperti teknologi beton. Teknologi bambu plester merupakan teknologi yang sudah lama, tetapi masih belum terlalu popular di Indonesia. Bentuk pemikiran masyarakat yang memandang bambu sebagai material untuk kalangan "orang-orang miskin" sering mengurungkan niat untuk memakai bambu sebagai material. Namun, kini sudah tidak lagi. Teknologi bambu plester sendiri sudah dapat menutupi kekurangan tersebut. Pemakaian bambu sebagai tulangan pembentuk yang kemudian bambu tersebut ditutupi oleh plesteran/acian (campuran semen:pasir) yang meningkatkan estetika dari ordinary house.
Selain dari ramah lingkungan karena menggunakan material re-newable, teknologi ini juga murah dan memiliki berat volume yang kecil untuk penggunanaannya sebagai dinding. Kelebihannya dari teknologi ini sebenarnya banyak dan sudah dijumpai dari artikel lainnya yang ada. Namun, untuk kelemahannya sendiri-teknologi bambu ini masih belum memiliki standar dalam pemakaian bambu yang baik dan optimum yang mana diatur dalam peraturan Standar Nasional Indonesia (Mungkin sudah ada, namun saya belum mengetahuinya.:D)
Karena penggunaan bambu yang merupakan material hidup yang mana dalam prosesnya sangat dapat dipengaruhi oleh cuaca alam, seharusnya membutuhkan standar-standar yang ditetapkan untuk menjaga para pemakai untuk dapat digunakan secara aman. Kekurangannya yaitu tidak adanya ketentuan yang pasti berapa lama umur layan yang mampu ditentukan untuk pemakaian teknologi bambu plester ini. Tapi untuk batas waktu 10 tahun, kemungkinan besar masih mampu.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada artikel yang dipublish oleh bapak Andry Widyowijatnoko dan bapak Mustakim dari ITB berikut (source : http://bamboocentral.org). Atau untuk artikel mengenai harga dari prose konstruksi penggunaan teknologi bambu plester untuk konstruksi rumah sederhana dapat dilihat disini (source: http://detik.com). Semoga memberikan sedikit inspirasi tentang green engineer!

0 komentar:

Poskan Komentar