Sample Text

Jumat, 13 Januari 2012

Aplikasi Pendekatan Berbasis Kekuatan di Isu Lingkungan

By admin
Dalam 10 tahun terakhir pendekatan berbasis kekuatan atau strength based approach banyak digunakan di Indonesia. AI (Appreciative Inquiry) atau PD (Positive Deviance) adalah contoh-contoh metode dengan pendekatan kekuatan. AI banyak digunakan untuk berbagai isu termasuk lingkungan dan bisnis. Sementara, PD kelihatannya lebih banyak digunakan kawan-kawan di sektor kesehatan.
Beberapa literatur menyebut praktik strength based sudah muncul beberapa dekade lalu. Bahkan, Healy (2005) melihat tahun 1940an sudah ada praktisinya, yakni Bertha Capen Reynolds yang saat itu mengritik penggunaan adopsi diskursus psikoanalisis yang tidak kritis. Dia melihat kebanyakan pekerja sosial terlalu melihat patalogi ketimbang kekuataan dan kapasitasnya. Intinya memang pendekatan kekuatan mengambil jalur yang berbeda dibanding penekatan deficit atau masalah (problem solving).
Belajar dari sejumlah pengalaman, beberapa fasilitator Lapangan Kecil yang tengah membantu Puskotling (Jakarta) mencoba menerapkan pendekatan berbasis kekuatan dalam isu lingkungan (penghijauan) di perkotaan, tepatnya di Pasar Manggis. Projeknya sendiri berfokus di 3 RW, yang terdekat dengan pasar dan memiliki kepadatan paling tinggi.
Setelah melakukan rembug di tingkat kelurahan, proses pencarian kekuatan dijalankan dengan mengajak kader-kader Posyandu berkeliling mencari sudut-sudut kampung yang dinilai bagus. Di antara kerapatan rumah-rumah dan sela-sela gang kecil yang bercabang-cabang ternyata tetap ditemui sudut-sudut yang hijau yang rindang dan rapih. Di sudut-sudut yang hijau dan indah itu kader dan fasilitator kemudian melakukan wawancara yang apresiatif dan kemudian berfoto ria. Sudut-sudut hijau nan indah itu pun difoto secara khusus. Foto-foto dan pengetahuan-pengetahuan yang didapat kemudian dibawa dalam rembug RW.
Rembug di RW 04 berlangsung malam hari di selasar kantor RW. Kantor RW 04 sendiri terletak di belakang pasar, di pinggir jalan. Walhasil, sesekali bajai dan motor melintas membuat sedikit noise. Ada sekitar 30 lebih partisipan yang hadir, kurang lebih meliputi Pak RT, pemuda, ibu-ibu Posyandu/ PKK dan aktivisi ormas.
Untungnya, tim lebih banyak menggunakan teknik kelompok kecil sehingga diskusi bisa berlangsung intensif per kelompok. Foto-foto diperlihatkan dan dibagi untuk kemudian didiskusikan: Di mana tepatnya ini? Apa enaknya atau tidak enaknya kondisi ini? Untuk mengantisipasi kurangnya dinamika, di setiap kelompok disisipkan juga 1 foto yang negatif (umumnya selokan yang penuh sampah).
Diskusi dalam kelompok terlihat berlangsung ramai. Awalnya seperti tebak-tebakan dan penuh guyonan, ini tempat siapa? Apa tempat Pak Parman? Bu Ani? Kaynya kok ga kaya begini ya?
Setelah diketahui lokasi foto, diskusi masuk ke tahap kedua tentang enak dan tidak enaknya kondisi di foto. Di sini mulai tampak serius.
Ketika ditanya, mana kondisi yang diinginkan, terpilih foto-foto positif yang menjadi acuan bersama.
Dan, tidak lama berselang, secara alamiah, muncullah pertanyaan/ tantangan dari warga dalam bentuk ungkapan: “Pak, action-nya bagaimana ini projek?”; “Bang, ini kita jangan diajak ngomong saja…”; “Kalau diskusi-diskusi kaya begini, sudah sering kita.”
Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.
Teknik dasar fasilitasi kemudian digunakan. Tim fasilitator pun berespon, “Kalau begitu, sekarang apa mesti dilkaukan agar ini bukan omdo (ngomong doang), diskusi doang. Supaya bisa jadi action nyata, apa yang mesti dilakukan?”
Kemudian muncul empat ide utama: pelatihan menanam, membuat kompos, bantuan tanaman, dan sosialisasi. Satu minggu kemudian, tepatnya tanggal 30 Oktober, pelatihan tanam menanam dan pembuatan kompos dilaksanakan. Dari 4 pelatih, 3 pelatih berasal dari RW itu sendiri. RW itu ternyata memiliki ahli tanam menanam dan ahli pembuatan kompos. Selain warga RW itu, perwakilan warga dari RW lain dan LMK pun ikut bergabung. Interaksi di pelatihan memunculkan ide/ komitmen/ motivasi baru, seperti RW itu sebagai pilot projek untuk pembuatan pupuk cair dan kompos yang akan diperluas ke RW-RW lain bila berhasil, dan membantu pelatihan RW-RW lain.
Apakah bisa dikatakan projek ini berhasil? Belum tahu. Perjalanan masih panjang. Yang jelas, ini masih tahap awal.

Artikel Terkait :
 

0 komentar:

Poskan Komentar