Sample Text

Jumat, 13 Januari 2012

Guru Fasilitatif


By admin
Gagasan guru sebagai fasilitator bukanlah ide baru. Sebagai fasilitator, guru tidak diposisikan sebagai sumber pengetahuan tunggal yang serba tahu dan di lain  pihak, murid dianggap sebagai “gelas kosong” yang tidak tahu apa-apa dan juga, tidak bisa mencari tahu. Sebagai fasilitator, guru “mempermudah” murid untuk mencari dan “memproduksi” pengetahuannya sendiri.
Gagasan guru sebagai fasilitator rasanya tidak sulit dipahami. Yang kerap menjadi tantangan justru bagaiamana cara mengaplikasikannya.
Dalam sebuah diskusi dengan kelompok mahasiswa, Lapangan Kecil belajar tentang sejumlah karakteristik pengajar yang kurang disukai mahasiswa, diantaranya adalah, 1) pengajar dinilai tidak mengajarkan apa-apa dan hanya menyuruh mahasiswanya membaca dan mengerjakan tugas, 2) pengajar kerjanya hanya bertanya-tanya, bahkan ketika ditanya, dia justru balik bertanya.
Hmm….rasanya gagasan guru sebagai fasilitator bukan berarti lepas tanggung jawab atau bahkan bersikap instruktif (atapun bahkan otoriter dan koersif).
Dalam pengalaman Lapangan Kecil, yang sangat krusial adalah menerjemahkan posisi guru fasilitator menjadi keterampilan menjadi guru fasilitatif. Dalam konteks murid secara individual, guru fasilitatif mampu membangun hubungan yang kondusif dengan rasa saling percaya. Dia lihai bertanya bukan untuk menguji atau bahkan menghakimi, namun membantu murid berpikir dan menemukan jawabannya sendiri. Dia mendengarkan dengan aktif bukan untuk mencari kesalahan murid, namun untuk belajar dari muridnya sendiri, menunjukkan perhatian, empati,dan sekaligus menunjukkan kekuatan yang dimiliki muridnya.
Dalam konteks kelompok murid, khususnya di satu kelas, guru fasilitatif terampil untuk menjadi seseorang yang terampil membuat murid saling kenal, saling berpendapat dan mendengarkan, bekerjasama secara positif. Kubu-kubu murid yang tadinya mengeras (biasanya di dalam kelas ada blok dan wilayah tempat: geng belajar, geng pembuat onar, geng borju dll), dicairkan oleh guru fasilitatif melalui percakapan yang demokratis dan juga kerja aktif murid-muridnya. Guru fasilitatif bisa mengelola dinamika yang rasional ataupun emosional menjadi keharmonisan, kesepakatan dan kerjasama. (Risang Rimbatmaja)

Artikel Terkait :

0 komentar:

Poskan Komentar