Sample Text

Jumat, 13 Januari 2012

Bukan Sekedar Ngomong

By admin
Seorang fasilitator pernah berkeluh kesah pada kami, “Masyarakat sekarang susah. Kalau kita hanya ngomong doang, tanpa ada bantuan nyata, program tidak akan jalan,” ujarnya. Yang dimaksudnya dengan bantuan nyata di sini adalah material atau bahan dan peralatan untuk konstruksi. Jadi, kalau mau bangun jalan, dianggapnya fasilitator mesti membawa bahan seperti pasir, batu kerikil atau aspal.
Anggapan seperti itu mungkin saja betul atau mungkin salah. Tapi, yang jelas, “ngomong” bukan sesuatu yang tidak berarti. Dalam pandangan konstruktivis, “ngomong” sudah merupakan bagian dari aksi sosial (social action). Bahkan, tanpa “ngomong”, tidak mungkin ada aksi sosial.
Banyak peristiwa-peristiwa besar di Indonesia yang terjadi karena ngomong. Proklamasi berawal dari diskusi-diskusi kecil tokoh-tokoh pemuda Indonesia pada jaman itu. Peristiwa sumpah pemuda juga sebetulnya merupakan “omongan”.
Jadi, jangan pernah mengecilkan “ngomong-ngomong”.
Kalau masyarakat menganggap fasilitator itu ngomong doang, rasanya itu betul, karena yang ngomong hanya sang fasilitator masyarakat. Wacana didominasi oleh fasilitator dan dia mungkin tidak memberi ruang bagi masyarakat, kecuali ruang konfirmasi: Apakah ibu/ bapak setuju? Setuju? Ada yang keberatan?
Jadi betul, fasilitatornya ngomong doang tapi tidak memberi warga untuk ikut membangun omongan. Bila demkian yang terjadi, tak heran bila tidak terjadi aksi sosial. Yang terjadi ada aksi individual (fasilitatornya ngomong terus dan mendominasi), tapi tidak ada omongan bersama.
Yang jelas manusia itu bukan robot. Omongan bagi manusia bukanlah sekedar instruksi atau kepatuhan yang sifatnya represif, tapi justru wadah untuk ber-ekspresi dan menghadirkan diri sebagai warga. Bila ruang itu tidak dibentuk, maka sulit untuk memunculkan perasaan memiliki, tanggung jawab atau partisipasi.
Saat ini jaman sudah berubah. Warga Indonesia bukanlah robot, yang bisa direpresi seperti di era orde baru. Warga kita semakin otonom di mana keputusan ada di tangan mereka masing-masing. Risang Rimbatmaja

Artikel Terkait :
 

0 komentar:

Poskan Komentar