Sample Text

Senin, 21 Mei 2012

Jalan dikawasan Exxonmobil tak terawat

LHOKSEUMAWE – Awal kegiatan eksplorasi gas yang dilakukan oleh Mobil Oil dan kini dilakukan oleh ExxonMobil, semua lintasan jalan yang digunakan perusahaan Migas tersebut dijaga dan dirawat dengan baik.
Jangankan berlubang, bergelombang sedikit saja langsung diperbaiki. Namun saat akan berakhir kegiatan eksplorasi gas, semua lintasan jalan milik perusahaan raksasa tersebut dibiarkan tanpa perawatan.
Kini jalan line pipa (begitu sering disebut) mulai dari Cluster 1 hingga Cluster 4 dipenuhi lubang besar. Masyarakat Kecamatan Nibong, Tanah Luas, Matang Kuli dan Pirak Timu, kerap terperangkap dalam lubang-lubang besar dan hamper saban hari ada yang terjatuh di jalan itu.
Selain warga empat kecamatan tersebut, jalan Line Pipa juga dijadikan sebagian masyarakat Aceh Utara sebagai rute untuk melepas lelah dan kepenatan. Mulai dari orang dewasa hingga anak muda setiap sore mangkal disana, guna menikmati rujak manis yang dijual masyarakat Nibong di dekat Poin E Exxonmobil.
Bukan hanya itu, para pedagang durian yang berasal dari berbagai daerah datang kesana untuk menjaja jualannya di pinggir jalan itu, begitu juga dengan pedagang jagung rebus, somai dan pedagang jajanan ringan lainnya. Aktivitas jalan tersebut sangat padat.
“Orang-orang suka jalan-jalan di Line Pipa karena jalan tersebut relatif aman karena tidak dilintasi mobil-mobil besar. Selain itu, pemandangan alam disana cukup menarik. Kami khawatir, jika jalan itu rusak dan tidak diperbaiki, berbagai aktivitas perdagangan akan lumpuh karena Line Pipa sepi,” kata T Hasansyah, tokoh muda dari Kecamatan Matang Kuli.
Tidak hanya sampai di Cluster 4, kerusakan jalan juga dialami di lintasan Cluster A, Kecamatan Pirak Timu. Kondisi disana lebih parah dari Cluster 1-4. Jika turun hujan, badan jalan tersebut persis kubangan kerbau. Kondisi ini sangat aneh, karena jalan Line Pipa merupakan jalan milik Exxonmobilm salah satu perusahaan Migas terbesar di dunia.
Sudirman (34), salah seorang warga Pantonlabu mengaku terheran-heran dengan kondisi jalan itu. Sebelum datang kesitu, dia mengaku mendengar dari mulut ke mulut kondisi jalan dan pemandangan disana sangat indah. “Kalau tidak melihat sendiri, saya pasti tidak percaya, kalau jalan Line Pipa separah itu. Masalahnya, jalan itu milik Exxonmobil,” kata Sudirman yang diamini Ramli, Idris, Hanafi, dan Dahlan.
Sebagai tokoh pemuda di Matangkuli, T Hansyah mengatakan, kehadiran Exxonmobil tidak banyak menguntungkan warga sekitar. Bantuan yang diberikan selama ini belum berhasil guna karena dinilai kurang tepat sasaran. Untuk pendidikan, hanya tiga sekolah yang menjadi binaan mereka yaitu SMAN-I Syamtalira Aron, Nibong dan Matangkuli.
Perekrutan tenaga kerja juga tidak seimbang dengan jumlah pemuda pengangguran, untuk Matangkuli saja mencapai 1.500 orang. Belum lagi di Pirak Timu, Nibong dan Tanah Luas. Memang, para pemuda itu tidak memiliki keahlian dalam urusan eksploitasi, tapi mereka ada yang mampu menjadi sopir, petugas keamanan dan bahkan menjadi tukang kebun di kantor itu.
Harapan itu mungkin telah pupus, sehingga akan berakhirnya kegiatan eksploitasi gas pada 2014. Masyarakat empat kecamatan itu kini hanya punya mimpi agar Exxonmobil dapat memperbaiki kembali lintasan jalan yang telah rusak. Paling tidak saat Exxonmobil akan pergi meninggalkan Aceh Utara, telah menghadiahkan bingkisan cantik untuk warga lingkungan.
“Mudah-mudahan, mimpi ini segera menjadi kenyataan. Kelau memang keberatan, sebaiknya Exxonmobil tidak usah menunggu 2014, silahkan angkat kaki dari tempat kami sekarang juga. Menteri ESDM dapat mencari industri lain untuk mengelola Arun LNG. Kami merasa, daerah kami selama ini dijadikan sebagai sapi perahan,” kata T Hasansyah penuh harap.
Armia Ramli, Humas Exxonmobil mengaku Exxonmobil telah memberikan hak warga lingkungan sesuai aturan yang telah ditetapkan Pemerintah Republik Indonesia.
Meskipun begitu, T Hasansyah dan Muhammad Husein, pemerhati sosial dan aktifis itu mengaku tidak percaya, karena semua bantuan yang telah diberikan Exxonmobil tidak tampak dan belum berhasil guna. Aktifis dan tokoh pemuda dari Matangkuli itu mengatakan, kondisi empat kecamatan tadi tak ubahnya seperti kata pepatah habis manis sepah dibuang.




0 komentar:

Poskan Komentar